Minggu, 20 November 2011

Keinginan Bukan Harapan

“Happy birthday to you.. Happy birthday to you.... Happy birthday my sweet hearth. Happy birthday to you....”

            “Selamat ulang tahun, sayang,” kata mama dan papaku diiringi dengan cipika cipiki. Aku sangat bahagia dengan suasana ini. Berbagai macam kado. Besar kecil semuanya ada. Aku hanya berharap kami selalu bersama.

            “Makasih, mama, papa.”
            “Kamu tahu nggak hadiah dari kami apa?” tanya papa. Aku hanya menggeleng.
            “Hadiah dari kami.... cerai.” 
            “Ha.. Haaa...” terdengar suara tawa yang membuat seluruh tubuhku sakit mendengarnya.
            “Nggak. Nggak. Nggak. Ngaaaaaaaaaaaak”

            “Aaaaaaaaa,” aku terbangun dengan napas yang tidak beraturan. Kenapa aku bermimpi itu. Aku tidak menginginkan mimpi yang hanya abstrak dan sama sekali tidak nyata untukku. Bukan hanya sekadar mimpi dan juga lelucon sesaat. 

            Kulihat jam weker di samping tempat tidurku. Masih jam 3 subuh. Tak ada yang ingin aku lakukan. Aku tidak ingin tidur lagi dan bermimpi yang sama. Itu hanya akan membuatku khawatir dengan keadaan nyata ku sebenarnya.

            Rasa dahagaku memanggilku untuk segera meminum sesuatu yang segar. Kubuka pintu kamarku dan menuruni tangga menuju dapur. Kulihat pintu kamar orang tuaku terbuka dan aku ingin menutupnya. Tapi saat aku menutupnya. Aku melihat di kamar itu hanya ada papaku. Lagi-lagi mereka tidak bersama. Beginilah keadaan yang sebenarnya. Jika saja yang di dalam mimpiku menjadi kenyataan, hatiku pasti sangat hancur. 
            Aku kembali ke kamarku. Seandainya aku bisa mengatur segala kehidupanku sendiri. Aku hanya menginginkan orang tuaku selalu akur. Itu saja. Nggak lebih. Kututup mataku dan berharap pagi ini, saat aku membuka kedua mataku aku ingin kesempurnaan dan kebahagiaan.

            ***
            “Prangggg...” suara guci yang dihempaskan itu membuatku terbangun. Itu hal biasa terjadi jika kedua orangtuaku bertengkar.

            “Kamu yang kemana semalam?” bentak papaku, terdengar sangat geram dan sangar.

            “Bukannya kamu yang selalu pergi kemana aja kamu mau?” sela mama. Pagi ini harapan yang kubuat subuh tadi nggak ada gunanya, selalu berujung dengan seperti ini.

            Keributan itu selalu menjadi awal hariku. Aku sambut dengan kebiasaan ku sehari-hari. DON’T CARE WITH EVERYTHING. Aku melanjutkan kegiatanku sehari-hari. Persiapan ke sekolah.

            Semua beres. Tinggal berangkat. Sebenarnya aku ingin sekali mencium tangan kedua orang tuaku sebelum berangkat sekolah. Tapi apa boleh buat. Tak ada yang bisa aku lakukan jika mereka sedang bertengkar. Hanya bisa menjadi penonton yang tidak jelas dan tidak pengertian dengan artis yang ditontonnya.
            “Udah siap, non?” tanya pak Wirto, supirku yang selalu ngikutin kemana aja aku pergi.
            “Iya, pak,” jawabku. Aku buka pintu mobil berwarna biru kesukaanku dan aku duduk di belakang.

            “Pak, kita ke Mall aja, pak,” lanjutku.
            “Tapi, non?”
            “Udah. Nurut aja!” aku ingin sekali memberontak dengan takdir. Aku yang dikenal anak penurut dan menjadi panutan teman-teman di sekolah, yang tidak pernah bolos apalagi bandel, kali ini aku melawan arus. 
            “Aku mau pergi. Tak ada yang bisa dipertahankan lagi,” teriak mama yang keluar dari rumah membawa koper besar. Melihat mama mau pergi, aku langsung turun dari mobil.
            “Ma, mama mau kemana?” tanyaku.
        “Maafkan mama, nak. Mama ingin cerai dengan papa,” itulah kata yang keluar dari mulut mama. Seperti kado dalam mimpiku. Kado perpisahan. Sakit sekali, hatiku hancur. Rasa sakit ini seperti disayat oleh sebuah samurai yang sangat tajam.
            Aku tidak bisa berkata apa-apa. Semuanya memang bisa dilihat apa endingnya. Bahagiakah? Sedihkah? Yah, tak diragukan lagi jika endingnya akan berakhir dengan seperti ini. Aku memang nggak tahan lagi dengan semua ini. Yang aku inginkan hanya bersama-sama dan bahagia. Apa itu salah? Tanpa pikir panjang lagi, ku rebut kunci mobil dari tangan pak Wirto. 
“Kamu mau kemana?” teriak mama. Aku tak peduli dengan semua kata-kata yang kudengar. Kusetir mobil dengan ngebut. Aku hanya mendengar teriakan mama dan papa yang seolah-olah bilang ‘hati-hati, jangan ngebut.’
            Aku mengendarai mobil dengan sangat tidak wajar. Aku yang masih berstatus pelajar yang bisa dikatakan stres dengan dunia yang kuhadapi menyetir mobil dengan ugal-ugalan. Melepas penat. Ringan sekali. Rasanya hilang semua masalah yang ada. Aku ingin berhenti di Coffee Cafe di persimpangan jalan. Tapi, remnya blong. Dan Blammmpppp....////
            ***
            Aku terbangun. Aku merasakan semua badanku terasa baik-baik saja. Aku berusaha bangkit. Tapi aku tak memilki tenaga sama sekali. Lelah rasanya. Kubuka perlahan mataku. Disini seperti ruangan yang bermode zaman delapan puluhan. Aku ternyata terbaring di sebuah sofa bergaya Itali. Di seberang sofa yang kutempati ada mama dan papaku. Mereka sedang menonton TV. Seingatku aku tadi berada dalam mobil dan menabrak sesuatu.
            “Kamu bangun, sayang?” sapa mamaku.
            “Mama, aku kenapa?”
            “Nggak napa-napa, kok, sayang.”
            “Ini dimana, Ma?” tanyaku ke mama yang sedang membaca tabloid.
            “Kita kan sedang tamasya di bukit.”
            “Tamasya? Apa ini mimpi? Perasaan tadi aku kecelakaan, ma.”
            “kecelakaan? Mimpi kali kamu tadi? Dari tadi kita nonton ya, ma?” kata papa.
            “He eh,” jawab mama sambil menganggukkan kepalanya. Heran. Kok biasanya berantem, kok bisa-bisanya jadi sok akrab gini ya.
            “Nanti kita jalan-jalan ke kebun teh,” ajak papa.
            “Iya, mama udah masak makanan kesukaan kamu dan papa,” kata mama. Apa ini? Semakin terasa aneh. Tapi, aku ingin menikmati semua ini. Jika ini mimpi, jangan sadarkan aku dari mimpi ini.
            ***
            Berminggu-minggu kami jalan-jalan. Mulai dari perkampungan sampai ke kota-kota besar. Jalan-jalan dengan mama dan papa tanpa ada keributan di antara mereka. Tidak melakukan kegiatan lain selain jalan-jalan dan bersenang-senang. Membosankan juga. 
Sekarang kami sedang menuju kampung halaman papa dengan menggunakan mobil papa. Pedesaan gitu. Aku nggak kenal dengan daerah ini. Tapi pemandangannya sangat membuat ketenangan. Sepanjang perjalanan, terlihat sawah-sawah yang hijau. 
Kami beristirahat di sebuah pondok yang cukup sederhana.
            “Mama, papa, kenapa kita hanya jalan-jalan dan senang-senang saja, sih. Bukannya kalian memiliki pekerjaan yang sangat penting. Dan aku juga mesti ke sekolah. Apa kalian nggak marah kalau aku nggak ke sekolah?”
            “Buat apa kami marah? Bukannya kamu yang ingin kita selalu bersama?” tanya papa. Sepertinya mereka tahu apa yang aku inginkan dari dulu. 
            “Tapi, kan. Bosan juga jalan-jalan mulu,” keluhku.
            “Jadi kamu maunya apa?” tanya mama. Aku sebenarnya ingin mengatakan ‘pulang aja ma. Aku pengen balik lagi kayak dulu. Tapi mama dan papa jangan ribut lagi,ya.’
            Aku malah menjawab, “Terserah, sih. Aku nurut aja.” Aku berbaring di atas tikar yang terlihat sedikit kotor. Tapi aku lelah sekali dan ingin beristirahat. Kupejamkan mata, kuhilangkan semua beban yang memberatkan pundak ini.
            ***
            “Huhhh,,” terdengar suara orang yang sedang menangis. Itu membuat kuterbangun. Ternyata, sekarang aku berada di rumah. 
Tangisan itu membuatku penasaran siapa yang menangis itu? Kucari-cari sumber tangisan itu. Suara itu berasal dari kamar mama. Tanpa pikir panjang lagi, aku berlari dan membuka pintu kamar mama.
“Ma, ada apa?” tanyaku. Mama langsung menyeka air mata di wajahnya.
“Ah.. Mama nangis gara-gara baca novel ini,” mama menunjukkan buku yang ada di tangannya. Itu bukan novel, ma. Tapi sepertinya mama nggak mau cerita kenapa ia menangis. 
“Ya, udah. Tidur aja ma. Udah malam,” suruhku. Aku keluar dari kamar mama. Mama nangis? Apa mama dan papa belum baikan. Keharmonisan berminggu-minggu ini kemana? Apa hanya sebuah lelucon yang hanya ingin membuatku tertawa terbahak-bahak?
***
Sarapan pagi ini adalah sarapan seminggunya kami pulang dari tamasya. Mama dan papa tak pernah menyapa satu sama lain. Satu meja makan pun tidak saling sapa. Kuperhatikan jika ada perlu saja mereka ngobrol. Aku muak dengan semua ini.
Kubantingkan sendok dan garpu yang kupegang, “Kalian mau sedieman sampe kapan? Apa kalian sedang berpantomim? Atau puasa ngomong? Aku capek,” aku berdiri meninggalkan mereka yang hanya diam. Sakit sekali rasanya melihat mereka. Lebih baik mereka saling marah dan meluapkan emosi mereka masing-masing daripada sediaman kayak gini. Mereka nggak mikirin perasaan anak mereka apa? Aku ini siapa di mata mereka? Patung? Aku terbayang pesta-pesta ulang tahun yang berkali-kali diadakan dengan sangat amat mewah tanpa kehadiran mereka. Upacara penerimaan penghargaan yang mengundang orang tua pun mereka tidak menghadirinya. Saat itu aku hanya iri melihat orang tua teman-temanku datang dan berfoto dengan anaknya. Kebahagiaan terpancar sekali dari mereka. Aku seperti tidak memiliki siapa-siapa. Aku ingin kehidupan yang seperti itu. Atau sekalian saja aku hidup sendirian.
***
            Bau apa ini? Aku bangun. Itu bau minyak yang dioleskan di tubuhku. 
            “Kamu udah sadar, Sya?” tanya Meika, sahabatku. Ini di ruang UKS sekolah.
            “Aku kenapa?” aku balik tanya ke Meika.
            “Tadi pas upacara bendera kamu tadi pingsan. Aku khawatir banget, Sya. Masalahnya kamu nggak pernah kayak gini,” jelas Meika. Meika diam sesaat. “Sya, maaf ya kemaren aku nggak ikut pemakaman,” lanjutnya.
            “Pemakaman siapa?” tanyaku penasaran.
            “Orang tua kamu,” jawabnya dengan penuh hati-hati. Aku tak percaya dengan apa yang dia bilang.
            “Kamu apa-apaan sih. Pemakaman apa? Pagi ini aku masih sarapan dengan mereka,” jelasku yang tak terima dengan kata-kata Meika.
            “Sya, kamu jangan gitu. Aku sedih liat kamu kalo kayak gini.”
            “Meika, aku bakal marah kalo kamu masih bilang gitu,” ancamku. Aku memang tak percaya apa yang dikatakan sahabatku ini. Jelas-jelas mama dan papaku sarapan dengan ku tadi.
            “Bip. Bip. Bip....” bunyi hapeku. Kubaca sms yang kuterima. Isinya tentang bela sungkawa. Apa ini? 
            “Mei, ini tanggal berapa? Aku nggak ulang tahun, kan? Kenapa kalian semua seperti ini. Sms dari Roni saja tentang bela sungkawa gitu. Kalo bercanda, jangan berlebihan, deh,” kataku. Tapi Meika mendadak menangis dan memelukku. 
            “Tasya, sabar. Jangan seperti ini terus. Kita pulang aja yuk!” ajak Meika.
            “Pulang? Kita masih sekolah, Mei. Kamu apa-apaan sih, masih mikir ortu ku meninggal? Gitu? Apa buktinya?” 
            “Ayo, ikut aku!” katanya sambil menarik tanganku.
            ***
            Meika mengajakku ke sebuah pemakaman. Tapi aku nggak ngerti kenapa dia mengajakku ke tempat seperti ini. Kami berjalan menuju dua buah makam yang masih baru. Kubaca nisannya. Dan....
            “Nggak.... Nggak mungkin,” kataku terkejut melihat nama di nisan tersebut. Di sana tertulis nama orang tuaku. Tapi mana mungkin. Aku menangis sejadi-jadinya. “Nggak mungkin, Mei..” aku terus menangis dan Meika hanya memelukku tak mengucapkan sepatah kata pun. Atau jangan-jangan....
            “Mei, atau gara-gara aku? Aku yang menginginkan semua ini, tapi aku tak pernah mengatakannya, Mei. Mei, aku hanya menginginkan hidup sendiri, tapi tidak seperti ini. Kenapa semua yang aku inginkan, semuanya terkabul, Mei?” beribu pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Tapi Meika hanya diam, dia tak tahu mau jawab apa. Aku melepaskan pelukan Meika dan berlari sekencang-kencangnya. Aku mau pulang. Aku yakin mama dan papaku masih ada di rumah.
            ***
            “Mama... Papa....” panggilku setelah sampai di rumah. Tapi yang keluar Bi Ratih dan Pak Wirto.
            “Apa benar mama dan papa sudah meninggal?” lanjutku. Bi Ratih tidak mengatakan apa-apa. Dia segera menghambur memelukku dan menangis. Pak Wirto hanya melihat dengan iba.
            Aku terduduk lemas di lantai, “Bi, semua ini gara-gara aku, Bi. Itu hanya keinginan untuk hidup sendiri tapi bukannya hidup seperti ini, Bi. Bi, keinginan dan doa apa sama, Bi?”
            “Bibi nggak ngerti, non?”
            “Allah....” teriakku. “Kenapa kau begitu kejam padaku, Allah?”
            “Istighfar, non, istighfar!” suruh Bi Ratih. Bibirku kelu untuk mengucapkan semua yang ingin aku katakan pada bibi. Aku tak memiliki kekuatan apa pun. Aku menyesal. Kenapa semua yang aku inginkan terkabul. Keinginan dan doa apa itu sama. Aku tak mengerti sama sekali. 
            “Bi, apa aku harus tidur? Dan saat bangun pasti orang tuaku kembali,” kataku. Aku segera ke kamar dan mengatakan dalam hati, ‘Aku menginginkan orang tuaku kembali.’
            Saat aku terbangun, aku langsung ke kamar mama dan papa. Mereka nggak ada. 
            “Mama... Papa....” panggilku. Yang keluar Bi Ratih dan Pak Wirto.
            “Sabar, non!” Bi Ratih memelukku.
            “Yang tawakal, non! Relakan orang tua Non!” kata Pak Wirto.
            “Aku udah tidur dan menginginkan orang tuaku kembali, pak. Apa ada yang salah dengan keinginan itu?”
            “Bapak dan bibi nggak ngerti maksud Non?” kata Bi Ratih bingung.
            ***
            Sudah seminggu dari kepergian orang tuaku. Setiap aku mau tidur aku menginginkan orang tuaku kembali. Tapi saat aku terbangun mereka tetap tak ada. Aku sadar, orang yang sudah meninggal tak mungkin hidup lagi. Aku sadar, aku egois dengan semua kehidupan ini. Aku sadar, aku tak mampu menjalani kehidupan ini lagi. Karena aku sadar, aku berdiri di sini, di pinggir sebuah jurang yang dalam, jika aku terjun, kemungkinan aku hidup lagi 0,1%. 
            Aku menutup mataku, maju dan terjun. Selamat tinggal dunia fana. Selamat datang dunia baru.
            ***
            Aku terduduk di kursi putih. Di sampingku ada sebuah meja kecil. Di sebelahnya ada sebuah kursi yang sama seperti yang kududuki. Ini adalah sebuah ruangan yang serba putih dan bersih. Tak ada satu pun noda. Benar-benar bersih. Aku bertanya-tanya, ‘aku dimana? Apa di surga?’
            “Tuk. Tuk. Tuk....” suara langkah kaki seseorang mendekat. Itu seorang kakek yang terlihat sudah hidup ratusan tahun, memiliki jenggot dan rambut yang panjang dan putih, mukanya nampak bersih. Dia memakai baju serba putih dan memegang tongkat putih. Dia menghampiriku lalu duduk di sebelahku.
            “Kakek, ini di mana? Apa di surga?” tanyaku yang benar-benar tidak tahu dimana ini.
            “Bukan, nak. Ini hanya sebuah ruangan untuk istirahat,” jelas kakek. Tapi aku tetap tidak mengerti.
            “Untuk istirahat?” tanyaku.
            “Ya, istirahat sementara. Dan juga tempat instrospeksi diri. Bisa juga tempat bertanya untuk menemukan jawaban yang tak pernah ada,” kakek menjelaskan.
            “Jika ingin bertanya, dengan siapakah saya harus bertanya, kek?”
            “Dengan siapa saja yang datang kepadamu,” jawab Kakek.
            “Kek, aku menyadari sesuatu, setiap keinginan yang kubuat sebelum tidur, saat terbangun semua itu menjadi kenyataan, kek. Tapi, saat aku menginginkan kehidupanku kembali, tidak kembali lagi, kek,” jelasku.
            “Semua keinginan itu pasti ada alasan. Mengabulkan semua keinginan itu pasti juga ada alasan.”
            “Tapi kan, kek, aku hanya menginginkan, dan lagi, aku nggak berdoa. Apa keinginan dan doa itu sama?” tanyaku.
            “Menurutmu?” kakek balik bertanya seraya tersenyum padaku. Aku benar-benar tidak tahu untuk menjawabnya.
            “Keinginan, doa, dan harapan itu jelas berbeda tapi tetap berhubungan,” lanjut kakek.
            “Keegoisan dan keserakahan pun sama. Berbeda tapi berhubungan. Kakek tahu apa yang kamu alami dan apa yang ingin kamu sampaikan,” kata kakek. Aku hanya tertunduk diam. Benar, selama ini aku sangat egois dan serakah. Aku menginginkan kesempurnaan dan kebahagiaan.
            “Kek, apa bisa aku hidup kembali seperti dulu, bersama kedua orang tuaku?” tanyaku pada kakek tapi kakek hanya tersenyum dan menatapku. Kakek berdiri dan seperti mau pergi, dia mengatakan,
            “Kakek hanya berpesan, perhatikan sekelilingmu. Jika menginginkan sesuatu pasti ada yang harus dikorbankan. Jangan pernah egois, nak!” pesan kakek. Kakek itu kemudian pergi meninggalkan aku yang tetap duduk. Tanpa terasa air mataku mengalir, aku mengingat kedua orangtuaku yang sangat kucintai, mengingat semua yang telah kulakukan. Aku menangis tersedu-sedu, kupejamkan mata. Menangis, menangis, dan menangis.
            Penyesalan memang tak pernah berada di awal, pasti akhir. Aku buka kedua mataku. Tiba-tiba aku telah berada di mobil biruku. Aku mendengar sesuatu,
            “Aku mau pergi. Tak ada yang bisa dipertahankan lagi,” itu suara mama. Aku kaget kenapa mama masih hidup? Ada apa ini? ‘Ayo, buka ingatanmu, Tasya!’ suruhku pada diriku sendiri. Ya aku ingat, ini adalah saat dimana aku sebelum kecelakaan. Saat itu mama mau pergi. Aku harus mencegah perginya mama. Aku tidak ingin mama dan papa pergi dari kehidupanku lagi. Aku segera turun dari mobil. Aku berlari dan langsung memeluk mama,
            “Ma, syukurlah. Mama kembali....” aku memeluk mama seraya menangis.
            “Nak, ada yang mau mama katakan,”
            “Aku tahu apa yang ingin mama katakan. Terserah kalian mau gimana. Yang penting kalian masih ada di dekatku. Yang penting kalian masih sayang sama anak kalian, Mama, Papa!” pintaku pada mereka. Kupandang mereka, mereka seperti bingung apa yang telah kukatakan. Kulepas pelukan mama dan berlari ke arah papa.
            “Pa, aku sayang papa,” kataku. Mereka semakin bingung dengan apa yang aku katakan. Biarlah, aku tak peduli dengan tatapan itu.
            ***
            Semenjak saat itu, mereka mulai peduli dan memberikan kasih sayang kepadaku. Meskipun mereka tetap bercerai. Tapi bagiku kini, yang penting mereka ada untukku, mereka ada di dekatku dan tentang keinginanku yang mudah terkabul, kini sebanyak apapun yang aku inginkan tak lagi mudah untuk menjadi kenyataan. Kejadian yang membuatku bingung itu, aku anggap  hanya sebuah mimpi atau ilusi. Karena memang tak masuk akal. Jika itu mimpi, aku benar-benar tidak bisa membedakan yang mana nyata dan yang mana mimpi. Semuanya terlihat sama di mataku. Tapi aku yakin apa yang aku alami itu nyata, meskipun aku merasa itu tak masuk akal. Semenjak saat itu, entah nyata atau abstrak, aku sangat hati-hati dengan apa yang aku inginkan dan apa yang aku sampaikan, walaupun kuucapkan hanya dalam hati.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar