Senin, 19 Agustus 2019

Catatan Kecil Anak kedua : tentang si bungsu

Dia satu-satunya anak laki-laki.
Si bungsu yang bersifat bungsu
Yang minggu ini akan diwisuda
Wisuda ketika orang tua kami sedang ibadah haji

Ditinggal beberapa minggu, ternyata menjadikan rumah itu bak bencana
Si dia yang menjaga rumah tetapi dalam konteks menjaga saja
Si bungsu yang diberi tanggungjawab mengelola keuangan.
Dari jaman membuat cerita, aku selalu bercerita tentang si dia, yang membuat keputusan sepihak untuk menjalani kehidupannya tapi tidak mampu lepas dari orang tua.
Pada saat seperti ini, si bungsu yang ego nya belum stabil dan si dia yang punya ego anak pertama, membuat aku bingung bagaimana aku seharusnya.
Ketika aku katakan jangan bicara kasar dan tidak menghargai yang lebih tua, dia marah besar karena menurutnya dia benar. Hingga kini ia hilang kabar.
Aku sedih bukan main.
Kasihan melihat si dia, dan menyesal bertengkar dengan si bungsu. Padahal aku seharusnya tidak ikut campur.
Tidak pernah seperti ini sebelumnya. Paling pertengkaran kecil biasa.
Aku mencoba hubungi, tapi tak ada jawaban.
Padahal dia online beberapa menit yang lalu.
Aku benar benar sadar, dia memiliki karakter yang sangat keras.
Dia benar benar tidak aku kenali.

Apakah dia kepada temannya seperti itu?
Aku rindu kenakalan kecil masa sebelum dewasa

Catatan Kecil Anak Ke 2 (6)

Diketika pada beberapa minggu yang lalu, ternyata belum sempat di post

Ini ceritaku
Tentang si anak ke dua yang selalu menceritakan dia, si anak pertama
Kami tumbuh bersama, bermain bersama, belajar ngaji bersama
Dia selalu jadi favoritku dari dulu
Pujaan yang berharga
Hingga kini pun ku sayang

Kemarin, adalah hari keberangkatan orang tua kami menuju mekkah madinah
Menunaikan ibadah haji
Adalah acara keluarga untuk mengantar mereka yang kami sayang yang akan pergi selama 40 hari
Cukup lama tapi tak lama

Dari acara itu
Dia yang tertua di rumah
Mengorganisir semua acara
Dan aku tetap hanya sebagai pengamat disana
Melihat dia memasak sambil bercerita bersama
Dia semakin dewasa ternyata
Tak hanya menjadi ibu yang keibuan
Dia juga cukup menjadi pendengar yang baik seperti dahulu
Masakan dia semakin enak
Aku semakin kalah dari dia
Semakin aku bangga dan merindu masa dulu akannya
Semakin aku jemu dengan keadaan yang sekarang

Dari acara itu
Aku bisa tahu
Cintanya pada kami tetap sama
Tapi memang berbeda untuk keluarga kecilnya
Terlihat dari matanya yang tak bisa luput dari anak-anaknya
Si besar dan si kecil
Pada kami, mungkin kenangan masa lalu yang selalu terbayang
Dan membuat cintanya bertahan hingga kini
Tapi untuk keluarganya,
Ada masa depan yang dia harapkan
Ada doa harapan dan pengorbanan di dalamnya
Ada cinta yang meluap yang berapi-api
Yang tak mungkin kami masuk ke dalamnya

Dia
Si anak pertama
Yang selalu menjadi idolaku
Aku selalu ingat pada saat wawancara SMA
Siapa idolamu?
"Kakakku" jawabku
Aku selalu membicarakan dia
Selalu menjawab begitu entah mengapa
Banyak memang artis, atlet, atau tokoh-tokoh yang dapat menjadi panutan
Tapi selalu aku jawab "kakakku"
Kenapa?
Dia selalu mengalah
Dia tak pernah egois
Dia penyayang
Dia tahu siapa dia
Dia tahu apa yang dia mau
Meskipun itu terjal, dia hadapi
Contohnya dia di masa kini

Aku menyukainya
Aku merindukan kabarnya
Cinta diantara saudara tak pernah pudar walaupun selalu ada selisih paham
Itu wajar
Darah yang mengalir di antara kami
Membuktikan bahwa kami bersaudara
Entah kami akan dijauhkan jarak dan waktu
DNA kami akan tetap merindu