Seperti biasa, akhir pekan aku pulang ke rumah orang tuaku dijemput travel langganannya ibu.
Jumat sore kemarin cukup membahagiakanku, karena salah satu tugas terberat kampus hampir selesai, tinggal presentasi saja menurutku. Aku pulang kali ini memohon restu orang tuaku untuk presentasi dan meminta doa agar presentasi kali ini dilancarkan.
Aku satu mobil dengan doen salah satu universitas tetangga. Dia bertanya, "kenapa kamu memilih jurusan itu?"
Aku hanya bisa tertawa. Tak ada jawaban yang dapat aku jawab.
Sepert halnya, kau mengidam-idamkan sesuatu dan setelah mendapatkannya ternyata hal tersebut di luar dugaanmu.
Begitulah aku sekarang. Menempuh sesuatu yang sudah menjadi pilihanku.
Antara menyesal dan bersyukur.
Tapi tak apa, jika ini bukan takdirku, mungkin sepandai-pandainya aku menjawab ujian tes kala itu, aku pasti tidak akan lulus.
Yah aku percaya ini takdirku.
Mengenang ke masa awal tahun 2012, masa pemilihan jurusan universitas.
Aku dihadapkan dengan egoku.
Dipikir kembali, aku sangat egois kala itu.
Ak ingin keluar kota tapi dilarang.
"terserah apapun pilihanmu, asal dirimu kuliah di kota ini" pinta ibuku via telfon waktu itu.
"Baiklah, jika itu mau ibu, aku akan masuk kedokteran." ancamku dan berharap ibu akan berpikir kembali dan mengizinkanku kuliah diluar kota.
"Akan ibu dan ayah sanggupi."
Entah mereka ingat atau tidak kenapa aku memilih jurusan kedokteran.
Kata mereka inilah cita-citaku sedari kecil. Tapi kalian tahu kan, semakin besar seorang anak, cita-citanya akan terus berubah. Semasa SMA, aku sangat tertarik yang namanya hitung-menghitung, dan aku pikir aku cocok di bagian teknik karena aku pikir jurusan tersebut ilmu itu akan terpakai dan bermanfaat.
Kembali lagi ke ancamanku saat itu. Aku masih belum memutuskan pilihan apa yang akan aku ambil.
Pada saat pengisian formulir jalur undangan, aku menulis pilihan pertamaku pada universitas luar dan kedokteran menjadi pilihan keduaku. tapi ternyata aku tidak lulus.
Aku menangis pilu dan down seketika.
"Masih ada jalur lain, kamu bisa nak" Ibu berkata dan aku melihat matanya memerah memandangku.
Keesokan harinya, jalur ujian tertulis dibuka. Aku langsung mendaftar jurusan kedokteran atas saran ibu. Karena ibu rasa aku sudah kalah taruhan. Ya sudah aku mendaftar jurusan FK dan FKG. Terserah yang mana saja yang masuk.
Pada saat ujian, aku tidak terlalu serius mengisi jawaban. Karena aku pikir lebih baik menjadi seorang dokter gigi karena bisa lebih banyak di rumah nantinya. Dan berakhirlah aku lulus di pilihan keduaku.
Tapi kenyataan berkata lain, perjalanan tak semulus jalan tol. Banyak kerikil dan lubang disana.
Tapi tak terasa aku sudah berjalan cukup jauh, dan garis finish sepertinya sudah terlihat. Tapi harus melewati lubang yang sangat besar. Hampir tidak bisa dilewati. Harus mencari penghubung ke seberang sana. Mungkin tahun depan dapat aku lewati.
Begitulah ceritaku.
Menyesal atau tidak, aku tetap bersyukur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar