Pagi itu, aku mau bersiap pergi ke rumah sakit tempat aku menempuh program profesi
Sekitar jam 8 pagi, dia kembali mengejutkanku dengan pesan singkatnya.
Dia sudah dijalan untuk mengunjungiku.
Aku sudah menduga, kejadian buruk kembali menimpanya.
Aku batalkan rencanaku hari itu, cukup absen hadir saja disana.
Setelah dia sampai di kota tempat aku menempuh pendidikan, aku mengirimnya taksi online untuk sampai ke rumahku.
Setibanya mobil itu di depan rumah, aku menjemputnya penuh duka. Aku tahu dia kembali padaku karena suatu masalahnya lagi.
Bersama dua bocah kecilnya, dia turun dengan senyum terpaksa.
Aku merengkuhnya ke pelukan, mengajaknya masuk ke rumah.
Aku biarkan dia beristirahat, tanpa bertanya, tanpa memaksa.
Menunggu dia siap untuk bercerita.
Entah mulai darimana dia mulai bercerita penuh dengan air mata,
Mengutarakan kepiluan batinnya tentang pengalaman hidup barunya.
Seakan lupa dengan bahagianya ia dahulu, ia ingin kembali, tidak mau melanjutkan kehidupan keras itu.
Siangnya, aku mendapat telfon orang tuaku, memberi kabar bahwa ia lari dari masalah lain.
Masalah itu tidak berbeda dari masalah dia kala itu.
Tanpa aku tanya, hanya sepatah kata tentang "itu"
Dia kembali menangis
Meraung pilu
Mengungkapkan luka
Meremas dada siapapun yang mendengarnya
Dia tidak ingin kembali
Dia ingin menetap bersamaku
Dia melarikan diri lagi
Dia sungguh tidak ingin kembali
Tapi ayahku berkata
"Aku ayahmu, aku yang akan melindungmu. Pulanglah, jika kau masih mengganggap aku ayahmu"
Tak sampai hati, aku mendengar ayah memintanya pulang.
Ayahku yang baru setahun pensiun, memiliki banyak pikiran tentang segala macam masalah anak-anaknya. Seharusnya di masanya dia menikmati kedamaian batinnya. Tapi itulah ayah. Seorang pelindung keluarga.
"Aku tidak mau pulang ayah. Jika aku pulang dan melihatnya, aku akan luluh kembali. Aku tak bisa menolak jika ia meminta kembali" jawabnya sambil terisak.
"Ayah sudah menyuruhnya pergi darimu. Tenanglah. Pulanglah. Ayah akan melindungimu."
Aku tidak kuasa menahan kepiluan itu. Aku menangis bersama.
Sementara dua bocah kecil, si kakak yang berusia 6 tahun, sudah cukup mengerti tentang kehidupan mereka. Bocah kecil 6 tahun itu pula berkata padaku "Aku tidak ingin pulang. Aku juga ingin menjauh darinya."
Bayangkan saja, apa yang terjadi.
Ia tetap tutup mulut, tidak mau bercerita tentang kenapa si kakak sampai berkata seperti itu.
Aku peluk tubuh kecil bocah itu. Kami menangis bersama siang itu.
Hingga malam menjemput,
mobil travel suruhan orang tuaku datang.
Menjemput mereka pulang.
Kudekap tubuh dia,
kutepuk pundaknya dengan bermakna.
Tanpa berkata apa-apa.
Karena kata penenang baginya, sudah tidak lagi berguna.
Mereka memasuki mobil, dan mobil pun menembus malam.
"Ibu, mereka sudah menuju ke rumah. Tolong jangan tanya apa-apa padanya. Tunggulah ia bercerita." Pesanku pada ibu di telfon karena aku tahu ibu akan bertanya macam-macam padanya ketika ia sampai nanti.
Ibu kembali mengabariku bahwa mereka sudah sampai di rumah orang tuaku.
Seperti ibu biasanya. Ia sudah menyiapkan air hangat untuk mandi agar ia dapat merilekskan tubuh dan pikirannya. Ibu meyakinkanku, ibu tidak bertanya duluan padanya. Dan menyuruhku kembali fokus pada pendidikanku karena besok aku akan menempuh ujian bagian.
Beberapa minggu dari kejadian itu, aku pulang.
Kudengar ia kembali membuka usaha kecil-kecilannya. Dan sepertinya cukup lancar.
Dia kembali tersenyum dan tertawa bersama kami.
Cukuplah sampai disini deritanya ya Allah
Berilah keluarga kami kebahagiaan
Dan terimakasih telah memberi kami orang tua yang sangat menyayangi kami
Orang tua yang menerima kami dan semua kesalahan kami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar